Mengapa ada orang yang bekerja siang dan malam, tetapi hasilnya terasa biasa saja? Sebaliknya, mengapa ada orang yang tampak sederhana, namun hidupnya selalu dipenuhi kemudahan dan keberkahan?
Pertanyaan itu mungkin pernah terlintas dalam benak kita. Jawabannya bukan semata-mata terletak pada seberapa keras seseorang bekerja, melainkan pada bagaimana ia memadukan ikhtiar dengan ikatan spiritual kepada Allah SWT. Islam mengajarkan bahwa kesuksesan tidak hanya dibangun oleh kecerdasan, pengalaman, atau strategi, tetapi juga oleh doa, tawakal, dan tawassul.
Pepatah yang sering kita dengar berbunyi, “Berusahalah sekuat tenaga, lalu sandarkan hasilnya kepada Allah.” Kalimat sederhana ini menyimpan pesan yang sangat dalam. Seorang muslim diperintahkan untuk bekerja sebaik mungkin, tetapi pada saat yang sama ia juga menyadari bahwa hasil akhir berada di tangan Allah SWT.
Kesuksesan Tidak Selalu Diukur dengan Harta
Setiap manusia memiliki impian yang berbeda. Ada yang bercita-cita menjadi pengusaha sukses, ilmuwan, guru teladan, atau pemimpin yang amanah. Ada pula yang hanya menginginkan kehidupan sederhana, keluarga yang harmonis, serta kesempatan beribadah dengan tenang.
Apa pun cita-cita itu, semuanya memerlukan usaha yang sungguh-sungguh. Namun, manusia juga harus menyadari bahwa kemampuannya memiliki batas. Ada saat-saat ketika kerja keras tidak langsung membuahkan hasil. Ada pintu yang belum terbuka meski telah berkali-kali diketuk.
Di sinilah seorang mukmin belajar bahwa usaha harus selalu disertai doa. Sebab, tidak ada satu pun keberhasilan yang lepas dari pertolongan Allah SWT.
Tawassul: Ikhtiar yang Menguatkan Hati
Salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah adalah melalui tawassul. Tawassul berarti berdoa kepada Allah dengan menggunakan wasilah atau perantara yang dibenarkan dalam syariat. Hakikatnya, yang dimohon tetap Allah SWT, sedangkan wasilah menjadi bentuk penghormatan dan adab seorang hamba dalam mengetuk pintu rahmat-Nya.
Islam mengenal beberapa bentuk tawassul yang diamalkan oleh para ulama, di antaranya bertawassul dengan Asmaul Husna, dengan amal saleh, dan meminta doa kepada orang saleh yang masih hidup. Semua bentuk tersebut mengajarkan satu hal penting, yaitu bahwa seorang hamba harus selalu merendahkan diri di hadapan Allah dan menyadari bahwa hanya Dia yang mampu mengabulkan segala permohonan.
Pesan KH. A. Mujib Imron: Guru Harus Memiliki Ikhtiar Lahir dan Batin
Nilai-nilai tersebut kembali ditegaskan oleh KH. A. Mujib Imron dalam pengajian bersama para guru se-Yayasan Al-Yasini. Beliau mengingatkan bahwa tugas seorang guru tidak berhenti pada menyampaikan materi pelajaran. Guru juga bertanggung jawab membentuk karakter, menanamkan akhlak, dan menjadi teladan bagi peserta didik.
Karena itu, menurut beliau, seorang guru perlu memperkuat ikhtiar batin melalui doa dan tawassul. Tawassul bukan sekadar bacaan rutin sebelum memulai aktivitas, tetapi merupakan pengakuan bahwa ilmu, keberhasilan, kemudahan, bahkan kemampuan mendidik merupakan karunia Allah SWT.
Beliau mengajarkan bahwa setiap aktivitas hendaknya diawali dengan hati yang bersih dan keyakinan penuh kepada Allah. Ketika seorang guru mengajar dengan ilmu, keikhlasan, dan doa yang menyertai, maka ilmu yang disampaikan akan lebih mudah diterima dan membawa keberkahan bagi peserta didik.
Lafaz Tawassul yang Diamalkan
Dalam pengajian tersebut, KH. A. Mujib Imron juga membagikan salah satu lafaz tawassul yang dapat diamalkan sebelum berdoa.
اللَّهُمَّ بِحَقِّ الْحَسَنِ وَأَخِيهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيهِ وَأُمِّهِ وَبَنِيهِ، نَجِّنِي مِنَ الْغَمِّ الَّذِي أَنَا فِيهِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، أَسْأَلُكَ أَنْ تُنَوِّرَ قُلُوبَنَا بِنُورِ مَعْرِفَتِكَ.
Artinya:
“Ya Allah, dengan kemuliaan Sayyidina Hasan, saudaranya, kakeknya, ayahnya, ibunya, dan keturunannya, selamatkanlah aku dari kesusahan yang sedang aku hadapi. Wahai Dzat Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, aku memohon kepada-Mu agar Engkau menerangi hati kami dengan cahaya makrifat kepada-Mu.”
Kemudian doa dilanjutkan dengan penuh pengharapan:
يَا رَبَّ الْمُصْطَفَى
“Wahai Tuhan Nabi Muhammad Al-Musthafa.”
Lalu diulang:
يَا اللَّهُ بِهَا، يَا اللَّهُ بِهَا
“Ya Allah, dengan wasilah tersebut, ya Allah, dengan wasilah tersebut.”
Dan ditutup dengan memohon kasih sayang Allah:
يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
“Wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”
Beliau menjelaskan bahwa inti tawassul bukanlah meminta kepada selain Allah. Seorang muslim tetap memohon hanya kepada Allah SWT, sedangkan wasilah menjadi bentuk penghormatan kepada orang-orang yang dimuliakan Allah sekaligus pengakuan bahwa manusia membutuhkan pertolongan-Nya dalam setiap urusan.
Relevan bagi Guru dan Siapa Saja
Pesan tersebut terasa sangat relevan, terutama bagi para pendidik. Dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Perkembangan teknologi, perubahan karakter peserta didik, hingga tuntutan profesionalisme mengharuskan guru terus belajar dan beradaptasi.
Namun, semua usaha itu akan terasa lebih ringan ketika dibarengi dengan kekuatan spiritual. Tawassul mengajarkan bahwa setelah mempersiapkan pembelajaran dengan baik, seorang guru tetap mengetuk pintu langit melalui doa. Setelah bekerja keras, ia bertawakal kepada Allah. Dengan demikian, ikhtiar lahir dan batin berjalan beriringan.
Nilai ini sesungguhnya tidak hanya berlaku bagi guru. Siapa pun dapat mengamalkannya—pelajar yang sedang belajar, orang tua yang berjuang menghidupi keluarga, pedagang yang mencari rezeki halal, maupun pemimpin yang memikul amanah. Semua membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh sekaligus pertolongan Allah.
Menjadi Pribadi yang Berhasil dan Berkah
Pada akhirnya, kesuksesan tidak semata-mata diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau luasnya popularitas. Kesuksesan sejati adalah ketika seseorang memperoleh keberkahan hidup, dimudahkan dalam beribadah, bermanfaat bagi sesama, dan mendapatkan ridha Allah SWT.
Karena itu, jangan pernah lelah untuk berikhtiar. Kerahkan kemampuan terbaik, iringi dengan doa, hiasi dengan tawassul, lalu serahkan hasilnya kepada Allah SWT. Sebab, ketika usaha bertemu dengan doa, dan doa dipenuhi keyakinan kepada Allah, di situlah keberhasilan tidak hanya menjadi pencapaian dunia, tetapi juga menjadi jalan menuju kebahagiaan akhirat.
“Berusahalah dengan tanganmu, berdoalah dengan lisanmu, dan gantungkanlah hatimu hanya kepada Allah. Di sanalah letak rahasia keberhasilan seorang mukmin.”
Sumber bacaan
- Al-Qur’an dan Terjemahannya (Kementerian Agama RI).
- Shahih al-Bukhari.
- Shahih Muslim.
- Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim.
- Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah.
- Imam an-Nawawi, Al-Adzkar.
- Imam al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din.
- Catatan Pengajian KH. A. Mujib Imron kepada Guru se-Yayasan Al-Yasini (2026).