Pasuruan – Suasana haru sekaligus khidmat menyelimuti halama n Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini saat digelar tighotsah 40 Hari Sambangan Santri. Acara ini menjadi momen istimewa bagi para wali santri yang telah 40 hari berpisah dengan putra-putrinya sejak awal masuk pondok.
Kegiatan ini bukan sekadar ajang temu kangen, tetapi juga sebagai media silaturahim, penyampaian informasi pondok, serta penguatan motivasi bagi wali santri agar lebih mantap menitipkan pendidikan anaknya di Al-Yasini.

Rangkaian acara diawali dengan Dibaiyah, Tahlil, dan berbagai penampilan kreatif dari santri baru, termasuk yang berasal dari luar Jawa. Penampilan tersebut menjadi pengobat rindu orang tua yang selama ini hanya bisa mendoakan dari jauh. Mulai dari vokal, kreasi nadhom, cuplikan kegiatan santri, pidato, hingga musabaqah ayat-ayat Al-Qur’an, semua ditampilkan dengan penuh semangat.
Para pengasuh turut menyampaikan pesan dan nasihat. Mereka menekankan bahwa mondok memberikan dua bekal penting: ilmu agama dan ilmu umum, yang keduanya menjadi penunjang untuk meraih cita-cita. Kesuksesan, menurut para pengasuh, tidak lepas dari riyadloh (tirakat), doa, dan keikhlasan orang tua.
Tak sedikit contoh nyata yang diungkapkan, salah satunya Ning Iid, alumni Al-Yasini yang kini sukses menjadi seorang Doktor Spesialis. Yai Mujib dalam mauidzohnya mengutip pepatah Arab “Man yazra‘ yahshud” — “Barang siapa menanam, pasti akan memanen.” Ia menegaskan, keberhasilan memanen membutuhkan perawatan penuh kesungguhan agar berbuah sempurna.

“Jika orang tua benar-benar ingin anaknya sukses, relakan ia menuntut ilmu sejauh mungkin. Biarkan mereka merasakan suka, duka, tirakat, dan keikhlasan, karena di sanalah terbentuk pribadi yang tangguh,” pesan Yai Mujib di akhir acara.
Acara yang sarat makna ini diakhiri dengan doa bersama, menjadi penutup indah pertemuan singkat antara wali santri dan anak-anaknya, sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuntut ilmu di Pondok Terpadu Al-Yasini.